Header Ads

Seri Wisata Kuliner Semarang : Sate Gule Kambing 29

Seri Wisata Kuliner Semarang : Sate Gule Kambing 29

Semarang yang kaya dengan tempat wisata kuliner ini mempunyai berbagai macam masakan sate kambing, salah satunya yang menjadi pilihan para penggemar kuliner di Semarang adalah Sate Gule Kambing 29. Rumah makan tersebut tergolong sangat legendaries, karena rumah makan ini sudah ada sejak tahun 1945. Pendirian rumah makan ini digagas oleh Yap Pak Yoe (alm) ayah dari penerusnya sekarang Tjandra Wibowo.

Untuk penggemar kuliner, silakan mampir ke rumah makan Sate Gule Kambing 29 ini, nantinya disini anda akan menemukan berbagai macam jenis masakan berbahan dasar kambing, dari daging dan atinya yang disajikan menjadi sate, bahkan sampai tulang kambing pun disajikan secara special. Menu special diantaranya adalah sate buntel, yakni daging kambing dicacah halus kemudian diberi bumbu dan dibungkus dengan gajih tipis. Setelah dibungkus, baru dibakar dan rasanya pun bisa dipastikan nikmat sekali. Sate buntel ini menurut pak Tjandra disediakan untuk para orang-orang tua yang sudah tidak kuat untuk mengunyah daging.

Menu di tempat kuliner di Semarang ini yang lainnya adalah sate campur, yang terdiri dari berbagai macam bagian dari kambing, mulai daging kambing biasa, torpedo, ginjal dan hati. Semua bagian tersebut disajikan bersamaan dalam bentuk potongan-potongan besar yang kemudian tanpa tusuk sate. Dan untuk yang tidak suka dengan jeroan, rumah makan Sate Gule Kambing 29 ini juga menyediakan menu sate daging biasa.

Menu lainnya adalah gule kambing yang disajikan dengan bumbu khusus yang rasanya berbeda dengan menu-menu gule yang lainnya. Gule kambing ini berisi iga, daging, usus hingga paru. Pepes olor yang terbuat dari isi tulang belakang atau sumsum tulang belakang kambing, dicampur kuah cukup lezat. Lalu balungan atau tengkleng pun juga tersedia disini.

Hidangan khas yang hanya tersedia di rumah makan Sate Gule Kambing 29 ini adalah sumsum tulang kaki kambing, dan penikmatnya pun harus dengan cara khusus pula, yaitu disedot. Karena kalau kita mengambil sumsum di dalam tulang dengan alat, maka sumsumnya akan hancur karena kondisinya yang lembek.

Sejarah Sate Gule Kambing 29 bermula saat Yap Pak Yoe (alm) datang ke Semarang dari Tiongkok puluhan tahun yang lalu, di jaman penjajahan Belanda. Saat itu Yap seringkali berkeliling untuk menikmati kuliner yang ada di kota Semarang, sampai akhirnya Yap ini tertarik dengan sate kambing yang dijual dengan cara dipikul.

Lama kelamaan Yap ini tertarik untuk mempelajari racikan bumbu untuk membuat sate kambing dengan mencobanya sendiri, dan juga bertanya kesana kemari mengenai racikan bumbu tersebut. Sampai akhirnya Yap ini menemukan racikan resep sate kambing yang disantapnya. Beberapa waktu kemudian, ketika jaman beralih ke jaman penjajahan Jepang, Yap mulai membuka warung kecil sate kambing di depan Gereja Blenduk.

Nomer 29 yang sampai sekarang dipakainya pun itu ternyata merupakan nomor rumahnya pada saat itu, hingga sekarang nomor tersebut dipakai menjadi nama rumah makannya yang bernama Sate Gule Kambing 29.

Usaha Yap ini sampai akhirnya di tahun 1975 diteruskan oleh anak pertamanya, Tjandra dari 11 saudaranya. Dua saudaranya Tjandra pun akhirnya membuka rumah makan yang sama di daerah Teuku Umar arah Jatingaleh dan di Jalan Kusumawardani. Dan hebatnya lagi, resep yang dipakai oleh penerusnya tersebut masih memakai resep yang diwariskan oleh Yap. Bahkan untuk menambah kelezatan dari satenya ini, Tjandra membuat kecap sendiri.

Dari semuanya itu, yang menjadi kualitas rasa yang paling pas adalah daging kambingnya. Daging kambing yang digunakan adalah daging kambing yang benar-benar siap potong. Karena dengan kambing segar, rasanya lebih manis dan dagingnya empuk. Dagingnya pun tidak semua dipakai sate, hanya bagian tertentu seperti paha atas dan daerah punggung, sehingga dagingnya benar-benar enak, serat-serat dagingnya pun dibuang sebelum dimasak supaya dagingnya menjadi empuk.

Untuk harganya, rumah makan Sate Gule Kambing 29 bisa terbilang lebih mahal dibanding dengan rumah makan yang lainnya. Untuk satu porsi sate campur / daging / ati diberi harga Rp. 50.000 dan Sate Buntel yang hanya berisi 2 tusuk diberi harga yang sama pula Rp. 50.000. Untuk Gule diberi harga Rp. 30.000 dan Gule Kaki Rp. 40.000. Untuk Sumsum dan Balungan diberi harga sama Rp. 30.000 sedangkan untuk otak atau olor diberi harga Rp. 20.000. Untuk anda yang suka makan sedikit, ada juga porsi sate setengah yang hanya Rp. 27.500 dan setengah porsi gule atau balungan di harga Rp. 20.000.

Rumah makan Sate Gule Kambing 29 ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai pukul 21.00, tutup hanya di hari Minggu sedangkan untuk hari besar tetap buka. Jadi, pastikan anda tidak melewatkan kuliner sate kali ini ketika datang ke kota Semarang, sambil jalan-jalan menikmati keindahan Kota Lama.

Sate Kambing 29

Jln. Letjen Suprapto No.29

(depan Gereja Blenduk)



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.